Wilujeun Sumping Sadulur

Mung sakeudik kreatifitas abdi tapi mugi-mugi aya manfaatna kanggo anjeun ....... tapi punteun mun loba kakiranganana \m/

Kamis, 11 April 2013

Analisa Teori Psikoanalitik Sigmund Freud terhadap Perilaku Psikologis Tentara Jepang dalam Film "The Flowers of War"


PENGENALAN

Layaknya peristiwa holocaust yang dilakukan oleh tentara Jerman kepada masyarakat dari ras Yahudi selama Perang Dunia II, peristiwa pembantaian dan perkosaan massal yang dilakukan tentara Jepang kepada masyarakat kota Nanking, China yang lebih dikenal sebagai Pembantaian Nanking pada tahun 1937 telah menjadi subyek penceritaan bagi banyak film-film produksi China. Lewat film The Flowers of War yang diangkat dari novel berjudul 13 Flowers of Nanjing karya Geling Yan, sutradara Zhang Yimou kembali mencoba mengangkat topik mengenai tragedi berdarah tersebut dengan mengambil sudut cerita mengenai tindakan heroik yang dilakukan oleh sekelompok wanita penghibur dalam membela tanah airnya.

Kisah The Flowers of War sendiri diceritakan berdasarkan sudut pandang seorang gadis remaja bernama Shu (Zhang Xinyi) yang terjebak dalam invasi yang dilakukan oleh tentara Jepang ke kota Nanking – yang pada saat itu merupakan ibukota dari negara China – pada tahun 1937. Bersama dengan teman-temannya yang merupakan pelajar sebuah sekolah Katolik, Shu berlindung di sebuah gereja yang bernama Winchester Cathedral. Turut berlindung bersama mereka di gereja tersebut adalah seorang penata rias mayat berkewarganegaraan Amerika Serikat, John Miller (Christian Bale), serta sekelompok wanita penghibur yang berasal dari rumah bordil yang terletak di Qin Hai River dan dikenal sebagai wanita penghibur kelas atas.

Ketika sekelompok tentara Jepang menerobos masuk Winchester Cathedral dan berusaha memperkosa para gadis remaja pelajar sekolah Katolik tersebut, seluruh penghuni Winchester Cathedral akhirnya menyadari bahwa mereka harus bersatu dan berusaha untuk melindungi satu sama lain. Seorang kolonel dari tentara Jepang, Colonel Hasegawa (Atsuro Watabe), kemudian datang dan meminta maaf atas perlakuan tentara Jepang yang melakukan penyerbuan tersebut. Namun, kedatangan Colonel Hasegawa kemudian berlanjut pada sebuah kunjungan yang akhirnya akan menentukan hidup dan mati para penghuni Winschester Cathedral.
Ketika film bertema perang lain menonjolkan drama di antara para prajurit—rasa takut, bimbang, kerinduan kepada keluarga, dan solidaritas—The Flowers of War justru menonjolkan sisi yang jarang dieksplorasi di layar lebar. Sisi ketakutan yang dihadapi oleh warga sipil, khususnya kaum hawa, yang harus menghadapi ancaman dari para prajurit yang tidak hanya menjajah negaranya, tetapi bernafsu untuk memerkosa mereka.
Sisa film diisi dengan dinamika hubungan antara para pelacur dengan para siswi yang berawal buruk dan penuh prasangka, pergumulan yang dihadapi George (Tianyuan Huang)—anak asuh sang mendiang pastur—untuk menjaga kedamaian gereja dan melindungi para siswi, serta perjuangan John dalam mencari jalan menuju kebebasan.

Adegan serangan sniper tersebut merupakan satu-satunya aksi baku tembak yang menghiasi The Flowers of War dan dikemas dengan sangat baik. Setelah penonton diajak untuk merasakan ketakutan dan kebencian terhadap kebuasan tentara Jepang ketika mengejar para murid, aksi tentara China ini menjadi padanan yang memuaskan dan melegakan. Namun, kisah tragis para wanita tidak berhenti di situ saja.
The Flowers of War merupakan film drama-sejarah yang penuh dengan adegan yang sulit dicerna. Bukan berarti film ini sulit dimengerti, melainkan adegan-adegan yang disuguhkan menampilkan horror yang harus dihadapi para wanita Nanking semasa pendudukan Jepang. Mereka sama sekali tidak boleh terlihat jika tidak ingin dikejar dan diperkosa secara bergilir oleh tentara Jepang. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya yang berhasil kabur atau melawan balik justru dibunuh secara brutal. Bahkan ada yang terbunuh selama proses pemerkosaan berlangsung.

Disini kami tertarik untuk meneliti perilaku psikologis para tentara jepang dimana mereka selalu mempunyai naluri untuk memperkosa dan membunuh setiap wanita yang mereka temui ketika terjadi perang di ibu kota China tersebut. Dan pembahasan tentang perilaku psikologis tentara jepang akan dibahas dalam BAB selanjutnya.




 KERANGKA TEORITIS

Mengacu pada permasalahn yang ada yaitu psikologis para tentara jepang ketika terjadi perang di ibu kota China pada tahun 1937 dimana mereka selalu memperkosa dan membunuh setiap wanita yang mereka temui, kami akan mencoba menjelaskan permasalahn tersebut berdasarkan teori psikoanalitik sigmund freud.
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

1.  Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.
Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan.
Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Namun, untuk segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan

2.   Ego

Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, dimana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.

3.   Superego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan superego

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.




ANALISA
Berdasarkan teori psikoanalitik Sigmun Freud yang menjelaskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga elemen, Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks. Dan kami akan mencoba menganalisis hubungan antara psikologis para tentara jepang yang berperang di ibu kota China pada tahun 1937 dengan teori psikoanalitik Sigmund Freud.
Di BAB sebelumnya telah dijelaskan bahwa Id merupakan tempat terletaknya dorongan biologikal dan tenaga-teaga naluri. Id ini diwarisi, bersifat primitif, dan tidak disadari, ia terletak terletak pada tahap alam tidak sadar. Naluri-naluri yang terdapat pada sistem id dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu naluri hidup (eros) dan naluri mati (thanatos). Naluri hidup ialah naluri seperti seksual, lapar dan sebagainya dimana ia membantu manusia untuk terus hidup (survival), dan naluri mati ialah naluri penghancur dimana manusia mempunyai hasrat dan kehendak untuk mati. Dari kedua uraian tersebut dapat dikatakan bahawa naluri daripada Id adalah terdiri dari naluri seperti seksual, biologikal, impuls kelangsungan dan juga kehancuran. Id merupakan sumber libido, yaitu satu tenaga psikik yang berfungsi untuk menggerakkan pemikiran dan tingkah laku seseorang. Id beroperasi berlandaskan kepada prinsip kenikmatan dengan mencari kepuasan dan mengehindari kesakitan.
Dalam mencapai matlamat itu tidak semuanya naluri dapat dipuaskan, yang kemudian timbul ketegangan dan pergelutan. untuk mengurangi ketegangan tersebut, id menggunakan proses pemikiran asas atau premier (primery process) dengan cara membentuk dan membayangkan objek yang diingini. Sebagai contohnya apabila kita dalam keadaan mengantuk kita mungkin akan membayangkan diri kita tidur di atas kasur yang empuk. Begitu pula dengan tentara jepang tersebut, yang merasakan hasrat untuk melakukan hubungan intim yang memungkinkan mereka hanya bisa membayangkan melakukan hal tersebut dengan wanita cantik atau mungkin dengan wanita yang pernah dikenalnya, seperti pacar atau istrinya.
Dan  kemudian sistem kepribadian yang kedua adalah ego, yaitu bagian kepribadian yang mempunyai sifat realistis, rasional dan logikal. Ia bertindak seolah-olah seperti penguasa eksekutif yang mengawal kepada tindakan-tindakan pikiran dan tingkah laku yang sesuai dengan keadaan sekitar. Ego beroperasi berlandaskan kepada prinsip realistis karena ia perlu mencari jalan yang realistis dan pertimbangan wajar dalam memenuhi keperluan dan dalam waktu yang sama mencoba mengelak masalah yang disebabkan oleh pikiran dan tingkah laku yang bersifat mementingkan diri sendiri.
Untuk memenenuhi kehendak id, ego yang menjalankan fungsi realistis akan melihat halangan-halangan disekitar dalam konsep dunia yang nyata. Dalam strategi ego untuk menyelesaikan masalah yang wujud, ego menggunakan proses pemikiran sekunder (secondary process) dengan cara tertentu. Sebagai contonya ketika para tentara jepang mempunyai hasrat untuk melakukan hubungan intim, ego yang ada pada diri mereka akan membuat keputusan diamana mereka harus memenuhi hasrat mereka. Karena situasi dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk memenuhi hasrat mereka, akhirnya mereka melakukan pemerkosaan, dengan bagaimanapun caranya mereka harus menyalurkan hasrat mereka entah harus dengan penyiksaan yang berujung dengan pembunuhan.
Selanjutnya superego adalah sistem kepribadian yang ketiga, ia merupakan komponen kepribadian yang mempunyai nilai moral. Menurut Freud, Id dan Ego tidak mempunyai nilai-nilai moral dimana Id mencoba bertindak memenuhi kepuasan dengan segera dan menhindari penderitaan, begitu pula Ego mencoba mencari jalan realistik memenuhi keperluan tersebut tetapi sebenarnya tidak memandang kepada apakah cara-cara tersebut benar atau salah dalam pandangan sistem sosial seperti dalam moral masyarakat, agama budaya dan sebagainya.
Superego akan bertindak mendesak Id untuk tidak mengeluarkan impuls kepuasannya untuk mencapai kenikmatan semata-mata, Superego juga akan mengarahkan ego agar dapat mengikuti nilai-nilai moral yang dipegang oleh masyarakat sekeliling. Dan pada hakekatnya ketika para tentara jepang melakukan pemerkosaan, superego mereka tidak mampu mengontrol id dan ego mereka. Kemudian bisa dikatakan bahwa para tentara jepang tersebut benar-benar tidak bermoral, karena dalam hal ini superego merupakan komponen kepribadian yang berkaitan dengan nilai moral.



 KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah kita bahas kami dapat menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara perilaku psikologis para tentara jepang yang melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap para wanita di China ketika mereka berperang di ibu kota China pada tahun 1937 dengan teori psikoanalitik Sigmun Freud. Hal itu terjadi karena para tentara jepang tidak mempunyai keseimbangan kepribadian antara id, ego dan super ego. Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego. Dan kami berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan pengertian yang lebih baik untuk kita semua mengenai teori psikoanalitik Sigmund Freud.

2 komentar: